Electronic Resource
Citra Perempuan Jawa Dalam Tokoh Utama Cerpen Sri Sumarah Karya Umar Kayam Dan Novel Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag (Pendekatan Sosiologi Sastra)
Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sebagai suatu gambaran kehidupan sosial prosa adalah salah satu contoh sastra yang memiliki pengertian yang lebih luas. Prosa dalam pengertian kesastraan disebut sebagai fiksi. Sebagai karya imajiner fiksi (novel, cerpen) menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan.
Berhubungan dengan kehidupan manusia munculah stratifikasi sosial yang artinya pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirarki). Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Hal ini menimbulkan permasalahan baik dalam sistem sosial atau individu. Stratifikasi sosial yang membedakan kedudukan dan peran seseorang dalam masyarakat. Adanya pembedaan ini menimbulkan citra seseorang dalam kehidupannya berbeda-beda. Peran yang dijalani juga berbeda yang mengarah pada pembagian status baik dalam kalangan bangsawan, priyayi, dan wong cilik.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra karena berusaha memaparkan kehidupan manusia dari segi citra, pandangan hidurp, dan peran seorang tokoh dalam kehidupan. Data penelitian ini adalah kata-kata yang mengandung citra perempuan, pandangan hidup, dan peran sosial dari tokoh utama. Sumber data penelitian ini adalah cerpen Sri Sumarah karya Umar Kayam dan novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag.
Teknik analisis data adalah teknik eksploratif (penjelajahan teks). Dalam menafsirkan data digunakan hermeneutika, dan terakhir dengan menyimpulkan hasil.
Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan yakni: karakter tokoh Sri Sumarah dan Pariyem memiliki kemiripan namun jelas berbeda, Sri lahir dari golongan priyayi yang memiliki kecerdasan memiliki karakter yang lembut, keibuan, ulet bekerja keras, sabar menjalani hidup, dan sikap pasrah “sumarah”, sedangkan Pariyem yang memiliki strata wong cilik , gadis ndeso memiliki karakter pasrah, ulet dalam bekerja, apa adanya, jujur, polos, dan selalu menjadi dirinya sendiri. Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi dan bersumber dari hasil perenungan, Sri menganut kedua pandangan hidup yang menghasilkan pemikiran rasional dan irasional sedangkan Pariyem lebih pada cita rasanya tanpa melihat hasil ideologi. Peran sosial berhubungan dengan status seseorang dalam masyarakat. Stratifikasi yang membedakan status dan peran terlihat dari Sri sebagai kaum priyayi lebih dihormati sebagai manusia invidual dan sosial, lepas dari makhluk sosial Sri berperan sebagai anak, istri, ibu, pekerja keras. Pariyem memiliki status sebagai wong cilik yaitu pada tingkatan petani, buruh, dengan kata lain Pariyem memiliki status rendahan dalam masyarakat. Adapun perannya sebagai makhluk berperan sebagai anak, istri, ibu dan pekerja keras.
SB00116S | KKI 410 FIT c/s | Perpustakaan Unikama | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain