Electronic Resource
Prinsip Kesantunan Berbahasa Warga SMP Islam Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang
Bahasa menunjukkan pribadi seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, misalnya menghujat, memaki, memfitnah, mengejek atau melecehkan akan mencitrakan pribadi yang tidak berbudi.
Dalam penelitian ini masalah yang muncul adalah pemenuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa warga SMP Islam Druju kecamatan Sumbermanjing Wetan kabupaten Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi wujud pemenuhan dan wujud pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa warga SMP Islam Druju kecamatan Sumbermanjing Wetan kabupaten Malang. Tempat dan waktu Penelitian dilaksanakan di SMP Islam Druju pada bulan Mei tahun 2012.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang menggambarkan apa adanya hasil dari pengumpulan data yang telah dilakukan oleh penulis. Subjek dalam penelitian ini adalah warga SMP Islam Druju yang meliputi kepala sekolah, guru, staf, dan siswa. Data dalam penelitian ini berupa ujaran atau tuturan. Instrumen yang digunakan meliputi instumen utama yaitu peneliti sendiri dan instrument pendukung berupa tabel. Penelitian ini menggunakan tiga tahapan, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap pengolahan data, dan (3) tahap penyajian hasil.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini pemenuhan prinsip kesantunan berbahasa yang dominan digunakan antara guru dengan guru adalah maksim kebijaksanaan, antara guru dengan siswa yang paling dominan adalah maksim penghargaan, dan antara siswa dengan siswa yang paling dominan adalah maksim kecocokan. Sedangkan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa yang paling dominan digunakan antara guru dengan guru adalah maksim kerendahan hati, antara guru dengan siswa yang paling dominan adalah maksim kesimpatian, dan antara siswa dengan siswa yang paling dominan adalah maksim penghargaan.
Hasil dari penelitian ini untuk peneliti lanjutan agar penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk mengkaji ilmu pragmatik dengan masalah yang lebih spesifik misalnya, prinsip kesantunan berbahasa dilihat dari perbedaan gender, usia, dan tingkat keakraban dengan objek dan tempat yang berbeda.
SB00093S | KKI 410 NAD p/s | Perpustakaan Unikama | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain